Dua Hati

November itu merupakan awal segalanya. Ya, november selalu menjadi bulan favoritku karena november telah mempertemukan kita. Aku berharap november tidak akan pernah berakhir.

Aku masih ingat pertama kali aku melihatmu. Saat itu kita berada dilorong sekolah. Kau terlihat kerepotan membawa setumpuk buku tugas. Sebenarnya aku ingin membantumu, tapi aku malu. Kita belum pernah berbicara. Kau berjalan kearahku dengan muka yang hampir tertutup tumpukan buku yang kau bawa. Kita berjalan berlawanan arah, seolah tidak memperdulikan satu sama lain.

Aku tidak pernah melihatmu, tapi entah kenapa ada sesuatu yang menarik perhatianku. Aku tidak pernah mengenalmu, tidak pernah berbicara denganmu; tapi hal itu justru membuatku ingin menyapamu.

Langkah kaki kita semakin dekat. Aku dapat mencium aroma yang manis seperti permen cokelat. Semakin kau mendekat, aroma itu semakin kuat. Waktu itu hujan sedang turun dengan deras. Meneteskan airnya ke atap sekolahan. Menyebabkan bunyi yang berisik.

Semakin mendekat, aku semakin memperhatikan sesosok wanita asing didepanku. Rambut hitam panjangnya yang terurai tertiup angin. Tubuh mungilnya yang serasa tenggelam ditumpukan buku yang ia bawa. Namun aku mencoba untuk tidak peduli. Aku terus berjalan seolah tidak ada orang disitu.

Kami berpapasan. Aku tidak sempat melihat wajahnya dengan jelas, dan dia sepertinya terlalu sibuk menjaga keseimbangan agar tumpukan buku yang ia bawa tidak jatuh. Langkah kaki kami semakin jauh. Aroma manis itu tidak lagi tercium. Aku berhenti sejenak dan menolehkan pandanganku untuk melihatnya lagi. Namun dia sudah tidak ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *