Dua Hati – Part IV

Keesokan harinya saat tiba dikelas aku langsung duduk dikursiku. Kebetulan kelas masih sepi karena masih terlalu pagi. Semalaman aku tidak dapat tidur karena memikirkan kejadian kemarin. Memang aneh sekali, tetapi mungkin saja itu cuma mimpi. Antara percaya dan tidak percaya.

Saat sedang asyik merenung, tiba-tiba Budi datang menyapaku. “Hei! Kenapa melamun?” Sapa Budi. “Ah tidak, hanya memikirkan sesuatu.” Jawabku. “Hmm memikirkan apa? Perempuan?” Tanyanya lagi. “Kurang lebih”. Jawabku pendek. “Serius!? Kau bisa memikirkan perempuan!?” Jawabnya kaget. Lalu aku menceritakan ciri-ciri wanita misterius itu. Tentu saja aku tidak menceritakan kejadian anehnya, hanya ciri-ciri wanita itu saja.

“Hmm.. Rambut panjang berkulit putih? Kurasa ada banyak sekali yang seperti itu” Jawab Budi sembari memegangi dagunya seperti detektif. Dia memang seperti itu jika sedang memikirkan sesuatu. “Ada ciri-ciri lain? Kenapa kau ini? Sedang menyukai seseorang ya?” Tanya Budi sembari menyeringai lebar. “Bukan! Aku hanya.. Ah lupakan”.  Tidak berapa lama kami mengobrol, bel masuk berbunyi dan semua murid duduk dikursinya masing-masing untuk pelajaran.

******

Jam istirahat tiba, aku pergi ke perpustakaan karena ingin mengembalikan buku yang tempo hari aku pinjam. Perpustakaan sekolah ini sangat sepi, kurasa murid-murid sudah tidak tertarik untuk membaca buku disini. Mereka lebih senang ke kantin atau lapangan untutk berkumpul dengan teman mereka. Perpustakaan ini tidak terlalu besar. Warna catnyapun sudah pudar, maklum perpustakaan ini termasuk bangunan tua. Begitu masuk kedalam perpustakaan, aku langsung disambut dengan muka masam penjaga perpustakaan. Entah kenapa semua penjaga perpustakaan seperti itu. Yah mungkin tidak semua, sebagian besar.

Setelah aku mengembalian buku ke penjaga perpustakaan, aku menuju rak buku untuk melihat-lihat apakah ada buku menarik lainnya yang dapat aku pinjam. Belum sampai rak buku, mataku tertarik dengan setumpukan buku besar yang ada diatas meja. Aku mendekat kemeja. Buku-buku itu terlihat tua. Besar dan buluk. Sepertinya buku ini sudah sangat lama berada diperpustakaan. Aku membaca judulnya. “Jurnal Musik”. Hmm menarik, aku tidak pernah tahu ada buku seperti ini. Jurnal musik, apakah ini jurnal milik klub musik? Kalau iya apa yang dilakukan buku ini disini?

“Maaf bu, ini buku apa ya?” Tanyaku kepada petugas perpus. “Oh itu buku tua yang mau dibuang” Jawabnya. “Boleh saya pinjam?” Tanyaku lagi. “Yasudah bawa pulang saja, toh mau dibuang” Jawabnya ketus. Setelah memasukkan buku jurnal itu ke tas, aku segera kembali ke kelas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *