Dua Hati – Part V

Hari ini berlalu dengan begitu cepat. Setibanya dirumah aku langsung merebahkan badanku diatas kasur. Lelah rasanya. Aku teringat dengan buku tua yang aku bawa dari perpustakaan. Karena penasasran, aku mencoba untuk membacanya. Aku turun dari kasur dan merogoh isi tasku. Kalau diperhatikan buku itu sangat kotor, berdebu dan sobek-sobek. Entah kenapa aku ingin membawa pulang buku ini.

Begitu aku membuka buku itu, ada tulisan besar dihalaman pertama. Tulisan itu berbunyi “Selain sekretaris dilarang membaca buku ini!” Kurasa ini hanya buku catatan sekretaris klub musik. Aku buka lembar kedua. Disitu tertulis bulan November tahun 1985. Wah sudah tua sekali buku ini. Lalu aku membaca tulisan dihalaman kedua itu.

“Yey! Klub musik akhirnya terbentuk juga. Setelah sekian lama mengumpulkan anggota, akhirnya kita sebuah klub! Sampai saat ini masih baru ada 3 orang termasuk aku, namun tidak apa-apa! Kita harus dapat merekrut lebih banyak anggota.”

Hmm sepertinya memang benar ini jurnal klub musik. Sepertinya ini berisi sejarah terbentuknya klub musik. Tidak ada salahnya aku membaca lagi.

“Hari pertama kegiatan klub kami beres-beres sekre. Yah belum banyak barang yang dapat ditaruh disini, hanya sebuah gitar dan beberapa peralatan kesekretariatan. “

Belum selesai aku membaca buku ini hpku berdering. Ternyata Budi mengabari kalau guru kesenian kami mengalami kecelakaan dan dia sekarang sedang menjenguknya dirumah sakit. Semoga pak guru tidak apa-apa.

****************

Keesokan paginya, saat sedang berjalan menuju kekelas aku melihat sesorang yang asing. Seorang wanita berpakaian kemeja putih dan rok hitam sedang berdiri didepan ruang guru seperti sedang gugup. Rambutnya hitam dan dikucir kuda dengan poni didahinya. Dia mengenakan kacamata kotak kecil berwarna hitam. Sepertinya aku pernah melihatnya namun aku tidak tahu pasti dimana aku melihatnya.

Dikelas semua membicarakan kejadian yang menimpa guru kesenian dan mereka merencanakan untuk menjenguk pak guru dirumah sakit sepulang sekolah. “Hei kau tahu kalau pak guru kemarin terpeleset saat naik motor?” Ujar seorang murid dikelas. “Oya? Tapi dia tidak apa=apa kan?” Ujar murid lainnya. “Hei aku dengar ada rumor kalau kesenian akan kosong!” Ujar murid lain dengan girang. “Hei tidak boleh seperti itu, pak guru kan kena musibah masa kau senang?” Jawab Budi yang baru datang dan duduk dibangkunya. “Tidak mungkinlah kesenian kosong, aku dengar sekolah telah mencarikan pengganti sementara untuk guru pelajaran kesenian” Lanjut Budi.¬† Bel berbunyi, kebetulan saat ini adalah jadwal kesenian untuk kelasku. Entah bagaimana nanti jadinya, kita lihat saja.

Pak Anton, wali kelas kami masuk kedalam kelas dengan seorang wanita mengikuti dibelakangnya. Mereka berdiri didepan kelas menghadap murid-murid. “Seperti yang kalian ketahui, bahwa pak Anang guru kesenian kita mengalami musibah, nah alhamdulilah dia tidak apa-apa, namun harus istirahat dirumah sakit selama beberapa minggu.” Jelas pak Anton kepada kami. “Untuk itu, sekolah telah mencarikan guru pengganti sementara untuk pelajaran kesenian. Nah ini adalah bu Nisa” Lanjut pak Anton sambll menunjuk wanita yang berada disebelahnya.

“Halo, saya Nisa. Guru pengganti sementara untuk mata pelajaran kesenian. Salam kenal” Sapa wanita itu dengan senyum yang hangat kepada kami. Kalau dilihat-lihat lagi wanita itu masih muda. Belum cocok dipanggil ibu-ibu, mungkin masih berumur 20 tahunan. Setelah perkenalan, pak Anton meninggalkan kami dan mempersilahkan bu Nisa untuk mengajar.

Dua Hati – Part IV

Keesokan harinya saat tiba dikelas aku langsung duduk dikursiku. Kebetulan kelas masih sepi karena masih terlalu pagi. Semalaman aku tidak dapat tidur karena memikirkan kejadian kemarin. Memang aneh sekali, tetapi mungkin saja itu cuma mimpi. Antara percaya dan tidak percaya.

Saat sedang asyik merenung, tiba-tiba Budi datang menyapaku. “Hei! Kenapa melamun?” Sapa Budi. “Ah tidak, hanya memikirkan sesuatu.” Jawabku. “Hmm memikirkan apa? Perempuan?” Tanyanya lagi. “Kurang lebih”. Jawabku pendek. “Serius!? Kau bisa memikirkan perempuan!?” Jawabnya kaget. Lalu aku menceritakan ciri-ciri wanita misterius itu. Tentu saja aku tidak menceritakan kejadian anehnya, hanya ciri-ciri wanita itu saja.

“Hmm.. Rambut panjang berkulit putih? Kurasa ada banyak sekali yang seperti itu” Jawab Budi sembari memegangi dagunya seperti detektif. Dia memang seperti itu jika sedang memikirkan sesuatu. “Ada ciri-ciri lain? Kenapa kau ini? Sedang menyukai seseorang ya?” Tanya Budi sembari menyeringai lebar. “Bukan! Aku hanya.. Ah lupakan”.¬† Tidak berapa lama kami mengobrol, bel masuk berbunyi dan semua murid duduk dikursinya masing-masing untuk pelajaran.

******

Jam istirahat tiba, aku pergi ke perpustakaan karena ingin mengembalikan buku yang tempo hari aku pinjam. Perpustakaan sekolah ini sangat sepi, kurasa murid-murid sudah tidak tertarik untuk membaca buku disini. Mereka lebih senang ke kantin atau lapangan untutk berkumpul dengan teman mereka. Perpustakaan ini tidak terlalu besar. Warna catnyapun sudah pudar, maklum perpustakaan ini termasuk bangunan tua. Begitu masuk kedalam perpustakaan, aku langsung disambut dengan muka masam penjaga perpustakaan. Entah kenapa semua penjaga perpustakaan seperti itu. Yah mungkin tidak semua, sebagian besar.

Setelah aku mengembalian buku ke penjaga perpustakaan, aku menuju rak buku untuk melihat-lihat apakah ada buku menarik lainnya yang dapat aku pinjam. Belum sampai rak buku, mataku tertarik dengan setumpukan buku besar yang ada diatas meja. Aku mendekat kemeja. Buku-buku itu terlihat tua. Besar dan buluk. Sepertinya buku ini sudah sangat lama berada diperpustakaan. Aku membaca judulnya. “Jurnal Musik”. Hmm menarik, aku tidak pernah tahu ada buku seperti ini. Jurnal musik, apakah ini jurnal milik klub musik? Kalau iya apa yang dilakukan buku ini disini?

“Maaf bu, ini buku apa ya?” Tanyaku kepada petugas perpus. “Oh itu buku tua yang mau dibuang” Jawabnya. “Boleh saya pinjam?” Tanyaku lagi. “Yasudah bawa pulang saja, toh mau dibuang” Jawabnya ketus. Setelah memasukkan buku jurnal itu ke tas, aku segera kembali ke kelas.

Dua Hati – Part III

TENG TENG TENG. Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Sebenarnya  aku tidak memiliki kegiatan apapun sepulang sekolah, namun aku memutuskan untuk mampir ke sekre musik. Ohya aku adalah anggota dari klub musik disekolahku. Tidak seperti kebanyakan klub musik SMA yang notabene band, klub musik di SMA ini adalah musik akustik. Jadi kami hanya memainkan lagu-lagu akustik saja. Kebetulan aku menguasai gitar jadi aku mendaftar saja diklub ini untuk mengisi kegiatan. Hari ini tidak ada jadwal latihan, tapi entah kenapa aku malas untuk pulang. Yasudah aku mampir saja ke sekre musik.

Setibanya di sekre musik, aku melihat pintu sekre sudah terbuka, tetapi anehnya begitu aku masuk tidak ada orang didalam. Ah siapa sih yang tidak mengunci pintu. Batinku. Aku masuk ke sekre dan memastikan tidak ada barang yang hilang, hanya berjaga-jaga. Setelah dipastikan aman, aku merebahkan badanku dikarepet. Enak sekali rasanya, dingin, sepi, enak untuk tidur siang. Entah kenapa mataku menjadi berat dan sepertinya aku tertidur.

Tiba-tiba aku mendengar suara keras seperti benda yang dipukulkan ke dinding. DUAK! Aku kaget dan terbangun. Hari sudah gelap. Apakah aku tertidur sampai malam? Apa gerangan suara tadi? Karena penasaran aku segera keluar sekre dan menuju sumber suara untuk melihat ada apa sebenarnya. Siapa tahu ada orang yang terjatuh.

Kalau tidak salah suara itu berasal dari belakang tembok sekre musik. Aku segera berlari menuju belakang sekre musik. Tanpa aku sadari aku berada dilorong tadi. Benar juga, dibalik tembok itu adalah sekre musik. Lalu apa gerangan suara tadi? Aku mencoba untuk menyusuri lorong tersebut. Entah kenapa lorong ini terlihat lebih gelap dari seharusnya dan entah kenapa udaranya tiba-tiba dingin. Begitu aku sampai ditengah lorong aku berhenti. Aku merasakan ada seseorang dibelakangku. Aku ingin sekali menoleh tapi tidak berani. Bggaimana kalau ada setan dibelakangku? Bagaimana kalau penyebab suara tadi adalah setan ini seperti difilm-film? Aku berdiri seprti patung sampai tiba-tiba ada suara dari belakangku.

“Sedang apa kau?” Aku terkejut dan langsung menoleh. Begitu kagetnya aku waktu melihat sesosok wanita dengan rambut panjang berada dibelakangku. “Waaah!” Teriakku. “Hei apa-apaan kau ini!? Kau pikir aku setan?” Jawab wanita itu dengan agak kesal. Setelah lumayan tenang aku mencoba melihat wanita itu sekali lagi. Ternyata dia adalah wanita yang waktu itu. Wanita yang aku temui dikoridor ini. “Apa yang sedang kau lakukan?” Tanya wanita itu kepadaku. “Umm aku err…” Jawabku terbata-bata karena masih sedikit syok.

“Ah sudahlah, ayo ikut aku. Gerbang mau dikunci.” Kata wanita itu sambil menarik tanganku. Tiba-tiba ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang tidak dapat aku deskripsikan. Tepat ketika dia menyentuh tanganku, ada perasaan yang aneh. Lalu tiba-tiba aku terbangun. Berkeringat dan kebingungan. Aku terbangun disekre musik. Sinar matahari sore masuk melalui jendela. Dengan nafas terengah-engah dan keringat bercucuran aku duduk diatas karpet sambil mencoba memahami situasi. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku bingung. Aku meraih hpku dan melihat jam. Ternyata ini masih jam 4 sore. Lalu apa yang tadi aku alami? Apakah itu mimpi? Jika iya mengapa terasa sangat nyata? Dengan masih kebingungan aku pulang kerumah. Rasanya lelah sekali, aku ingin tidur. Entah kenapa aku selelah ini, padahal aku baru bangun tidur. Aku tidak tahu kalau kejadian itu adalah permulaan dari sesuatu yang luar biasa. Tapi itu cerita untuk lain kali.